SHARE

Kejahatan di dunia maya semakin lama memang semakin canggih. Pada tahun 2018 ini, sejumlah serangan siber seperti Malware akan tetap ada dan bahkan bisa saja membutuhkan penanganan secara khusus.

Apa Malware itu sendiri? Malware merupakan suatu program yang diciptakan dan dirancang dengan tujuan untuk merusak dengan menyusup ke dalam sistem komputer, dengan memanfaatkan kelemahan yang ada. Malware dapat menginfeksi banyak komputer dengan masuk melalui email, file yang kita download, atau program yang terinfeksi.

CTO Symantec Pacific, Nick Savvides, mengklaim bahwa serangan siber sangat mungkin terjadi pada tahun 2018 mendatang.

Security Intelligence
Sumber: Security Intelligence

Berikut ini merupakan prediksi Symantec untuk serangan siber yang kemungkinan besar terjadi pada tahun 2018 mendatang:

File-less dan File-light Malware

Serangan ini tidak akan tampak secara langsung, karena bukan merupakan file atau pun software. Serangan ini menggunakan software yang digunakan oleh korban sendiri, sehingga hanya berupa perintah (command) saja. Tipe serangan ini membuatnya menjadi lebih sulit untuk dihentikan, dicari, dan juga untuk di pertahankan di berbagai skenario.

Sebagai contoh, di tahun 2017 ada serangan ke perusahaan yang berada di benua Asia. Serangan ini memanfaatkan kelemaha pada DLL file yang berada di aplikasi Windows, Google, dan Kaspersky. Serangan ini membuat backdoor yang tidak nampak dan menyerang program Microsoft Outlook untuk menguasainya dan menyaring data-data penting perusahaan.

Baca Juga: Fileless Malware Berhasil Menginfeksi Lebih dari 140 Perusahaan di 40 Negara

BlockChain

Sejauh ini, BlockChain hanya dikenal sebagai cara untuk membuat crypto-currencies. Kedepannya, fungsi BlockChain selain sebagai mining akan digunakan oleh penyerang untuk melakukan serangan. Sebagai salah satu contohnya, korban akan ditipu untuk memasang miners di device mereka, untuk digunakan oleh penyerang sebagai miners untuk mendapatkan keuntungan berupa mata uang digital seperti bitcoin dan monero

Kejadian ini sudah terjadi di ponsel-ponsel Android di India dan China. Malware dari BlockChain ini diselipkan di Google Apps update yang berasal dari pihak ketiga. Malware ini akan memakan sumber daya dari ponsel yang terjangkit malware untuk melakukan mining. Akibat yang ditimbulkan dari malware ini antara lain membuat ponsel menjadi lebih lambat, cepat panas, dan paling parah sampai membuat ponsel Android anda Brick atau mati total.

Baca Juga: Cara hack Whatsapp dan Telegram

Artificial Intelligence & Machine Learning

Sejauh ini, penggunaan teknologi Artificial Intelligence dan juga Machine Learning difokuskan untuk pertahanan dan untuk mendeteksi serangan. Namun, semua itu diperkirakan akan berubah di tahun ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita akan melihat AI melawan AI lainnya di dalam dunia cyber security.

IoT Devices

Sepanjang yang kita ketahui, IoT device merupakan salah satu peralatan yang cukup keren untuk ditaruh di rumah kita. Namun, siapa sangka dibalik peralatan mewah tersebut terdapat sebuah ancaman yang luar biasa. Ya. Di tahun 2017 sendiri, terdapat lebih dari ratusan ribu perangkat IoT melakukan serangan DDoS. Perangkat tersebut kebanyakan memiliki tingkat pertahanan yang rendah, sehingga rentan untuk dibobol oleh penyerang.

Baca juga: Tips Keamanan Wireless Di Rumah Anda

Referensi:
2018 Cyber Security Predictions – Symantec
HiddenMiner Android Cryptocurrency miner can brick your device
Operation Cobalt Kitty: A large-scale APT in Asia carried out by the OceanLotus Group

Tinggalkan komentar

Berikan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.