SHARE

Perkembangan internet yang semakin maju, membuat semua informasi kian hari semakin mudah untuk didapatkan. Dewasa ini, kita terbiasa membagikan informasi tentang diri kita, apa yang kita rasakan, aktifitas, keadaan yang sedang kita alami di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan youtube. Kita pun mulai terbiasa berbelanja secara online. Dengan adanya marketplace online seperti tokopedia, bukalapak, lazada, dan lainnya. Marketplace semacam ini menawarkan kemudahan dalam proses berbelanja dan variasi metode pembayaran yang mengakibatkan perubahan gaya hidup pada sebagian besar masyarakat. Belum lagi adanya teknologi yang disebut Internet of Things (IoT) yang membuat hampir semua benda sekarang ini dapat dimonitor dan dikendalikan lewat internet.

sumber gambar: opentext.com

Namun dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh internet, ada bahaya yang mengancam seperti malware, pencurian data, percobaan hacking, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menangani berbagai ancaman tersebut? Information Security atau keamanan informasi adalah tentang memahami dan mengontrol ancaman terhadap asset yang kita miliki dan lindungi. Jadi kita harus memahami fokus dasar keamanan informasi terlebih dahulu. Dengan begitu, kita mungkin dapat mengeliminasi satu per satu ancaman yang ada tersebut. Fokus dasar keamanan informasi disini maksudnya adalah hal apa saja yang harus dicapai atau harus dilindungi dalam konteks keamanan informasi.

Seorang professional dalam bidang keamanan informasi akan berfokus untuk mencapai dan melindungi  confidentiality, integrity, dan availability (CIA). Ketiga hal tersebut merupakan prinsip dasar pada keamanan informasi. Ketika kita ingin membangun sebuah sistem yang aman, ketiga hal tersebutlah yang dijadikan sebagai acuan yang harus dicapai dan dilindungi. Mari kita bahas 3 prinsip dasar keamanan informasi tersebut satu per satu secara lebih mendalam.

  1. Confidentiality

Maksudnya secara singkat sama dengan arti katanya yaitu kerahasian. Kerahasian dalam hal ini adalah informasi yang kita miliki pada sistem/database kita, adalah hal yang rahasia dan pengguna atau orang yang tidak berkepentingan tidak dapat melihat/mengaksesnya. Atau dengan kata lain, hanya pihak yang berhak dan berwenang saja yang dapat mengakses informasi tersebut. Untuk itu kebanyakan organisasi umumnya mengklasifikasikan informasi/data untuk mengakomodir tercapainya confidentiality. Klasifikasinya yaitu internal use only (hanya digunakan di lingkungan internal perusahaan), public (biasanya disebarkan melaui website atau media sosial perusahaan), dan confidential (sangat rahasia, contohnya data-data terkait planning, finansial, business process, dll).

Ancaman yang muncul dari pihak yang tidak berkepentingan terhadap aspek confidentiality antara lain:

  • password strength (lemahnya password yang digunakan, sehingga mudah ditebak ataupun di-bruteforce)
  • malware (masuknya virus yang dapat membuat backdoor ke sistem ataupun mengumpulkan informasi pengguna)
  • social engineering (lemahnya security awareness pengguna dimana mudah sekali untuk ‘dibohongi’ oleh attacker, yang biasanya adalah orang yang sudah dikenalnya).

Cara yang umum digunakan untuk menjamin tercapainya aspek confidentiality adalah dengan menerapkan enkripsi. Enkripsi merupakan sebuah teknik untuk mengubah file/data/informasi dari bentuk yang dapat dimengerti (plaintext) menjadi bentuk yang tidak dapat dimengerti (ciphertext), sehingga membuat attacker sulit untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Enkripsi harus dilakukan pada level media penyimpanan dan transmisi data.

Masih ingatkah kalian dengan berita pada awal Desember 2016 tentang berhasil diretasnya google, yahoo, dailymotion, yang berakibat tercurinya data-data pengguna mereka? Hal tersebut merupakan contoh dari rusaknya aspek confidentiality pada keamanan informasi.

  1. Integrity

Integrity maksudnya adalah data tidak dirubah dari aslinya oleh orang yang tidak berhak, sehingga konsistensi, akurasi, dan validitas data tersebut masih terjaga. Dengan bahasa lain, integrity mencoba memastikan data yang disimpan benar adanya, tidak ada pengguna yang tidak berkepentingan atau software berbahaya yang mengubahnya. Integrity berusaha untuk memastikan data diproteksi dengan aman dari ancaman yang disengaja (serangan hacker) maupun ancaman yang tidak disengaja (misal. kecelakaan).

Integrity dapat dicapai dengan:

  • menerapkan strong  encryption pada media penyimpanan dan transmisi data.
  • menerapkan strong authentication dan validation pada setiap akses file/akun login/action yang diterapkan. Authentication dan validation dilakukan untuk menjamin legalitas dari akses yang dilakukan.
  • menerapkan access control yang ketat ke sistem, yaitu setiap akun yang ada harus dibatasi hak aksesnya. Misal tidak semua memiliki hak akses untuk mengedit, lainnya hanya bisa melihat saja.

Contoh mudah dan umum dari rusaknya integrity terkait keamanan informasi adalah pada proses pengiriman email. Alice mengirimkan email ke Bob. Namun ketika email dikirim, di tengah jalan Eve meng-intercept email tersebut dan mengganti isi emailnya kemudian baru diteruskan ke Bob. Bob akan mengira bahwa email tersebut benar dari Alice padahal isinya telah terlebih dahulu dirubah oleh Eve. Hal tersebut menunjukkan aspek integrity dari email yang dikirim oleh Alice telah hilang/rusak.

  1. Availability

Maksud dari availability adalah memastikan sumber daya yang ada siap diakses kapanpun oleh user/application/sistem yang membutuhkannya. Sama seperti aspek integrity, rusaknya aspek availability dari sistem juga bisa diakibatkan karena faktor kesengajaan dan faktor accidental (kecelakaan). Faktor kesengajaan bisa dari serangan Denial of Service (DoS), malware, maupun hacker/cracker. Untuk faktor accidental (kecelakaan) bisa karena hardware failure (rusak atau  tidak berfungsi dengan baiknya hardware tersebut), konsleting listrik, kebakaran, banjir, gempa bumi, dan bencana alam lainya.

Untuk memastikan tercapainya aspek availability, organisasi perusahaan bisa menerapkan:

  • disaster recovery plan (memiliki cadangan baik tempat dan resource, apabila terjadi bencana pada sistem)
  • redundant hardware (misal memiliki banyak power supply)
  • RAID (salah satu cara untuk menanggulangi disk failure)
  • data backup (rutin melakukan backup data)

Untuk contoh dari rusaknya aspek availability sistem baru-baru ini adalah steam, platform distribusi game digital terbesar di dunia, tidak bisa diakses atau mengalami server down oleh serangan Distributed Denial of Service (DDoS). Padahal pada waktu tersebut steam sedang dibanjiri pengunjung karena sedang mengadakan winter sale.

Demikian 3 prinsip dasar pada keamanan informasi. Ketiganya (confidentiality, integrity, availability) harus tercapai dan terlindungi untuk menciptakan suatu sistem yang bisa dibilang aman walaupun kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar aman.

(Diedit oleh Wahyu Nuryanto)

2 COMMENTS

Berikan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.